Tampilkan postingan dengan label Sekilas Info. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekilas Info. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 September 2011

Perlu Dicari Cara Agar Penetapan 1 Syawal Tidak Menimbulkan Perbedaan Lagi


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta agar Majelis Ulama Indonesia dan para ulama lain dapat menentukan salah satu cara untuk memutuskan datangnya 1 Syawal untuk tahun-tahun mendatang. Presiden menyampaikan hal ini pada bagian lain pengantarnya saat memimpin sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Selasa (6/9) siang.
"Saya meminta MUI dan pihak lain yang memahami hal ini dapat berpikir dengan tenang dan jernih untuk menetapkan Lebaran di tahun-tahun yang akan datang," kata SBY. Presiden perlu menyampaikan hal ini karena banyak pesan singkat atau sms masuk yang bernadakan protes tentang penetapan 1 Syawal yang kerap berbeda di tanah air.
SBY juga mengingatkan, soal penetapan 1 Syawal ini bukanlah domain Kepala Negara. "Ini domain dari para ulama yang memahami hal ini. Saya bukan ahlinya," ujar SBY.
Sebelumnya, Presiden juga menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri kepada semua pihak yang merayakannya. "Ijinkan saya menyampaikan selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir batin. Minal aidin wal faizin," kata SBY. "Barangkali selama setahun ada tutur kata dan tindakan saya yang tidak berkenan, baik lisan maupun pesan melalui sms, saya minta maaf," Presiden menandaskan

Keraton Yogyakarta Luncurkan Mushaf Al- Quran


Kementerian Agama menyambut baik penulisan ulang mushaf Al-Quran Keraton Yogyakarta, yang peluncurannya dilakukan bertepatan peringatan Maklumat 5 September 1945. "Kami menyambut baik upaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menerbitkan mushaf Al-Quran versi keraton. Ini akan menambah khasanah budaya Islam di Tanah Air," kata H Muhammad Samidin Nashir, Direktur Lembaga Percetakan Al-Quran Kementrian Agama RI, saat peluncuran mushaf Al-Quran Keraton Yogyakarta di Pagelaran Keraton setempat, Senin (5/9) malam.

Langkah ini diharapkan bisa melengkapi kebutuhan Kitab Suci Al-Quran di Tanah Air yang mencapai 45 juta eksemplar. Selama ini pencetakan Al-Quran mencapai 225 ribu eksemplar, sebagian besar dipenuhi swasta. Bersamaan dengan peluncuran mushaf Al Quran versi keraton itu diterbitkan pula penanggalan Sultan Agungan yang mengacu sistem qomariyah (bulan-Red). 
Acara dimeriahkan penampilan Emha Ainun Nadjib bersama grup musik Kyai Kanjeng. Melantunkan aneka komposisi lagu, seperti Tombo Ati karya Sri Sultan Hamengku Buwono IX hingga Medley Nusantara yang bersumber dari lagu-lagu daerah Bali, Palembang dan lainnya. Acara dihadiri Ketua Umum Yayasan Raja Nusantara Mahmud Badarudin, Duta Besar Negara Brunei Darussalam, mantan Ketua Umum DPP Golkar Akbar Tanjung, dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin.
Kerabat Keraton Yogyakarta GBPH Joyokusumo sebelum menyerahkan mushaf ke Sultan Hamengku Buwono X, secara khusus membacakan surat Al Fatihah. Ia berharap penerbitan ulang mushaf Al-Quran versi keraton itu bisa menjadi pedoman bagi Keraton Yogyakarta khususnya dan masyarakat umumnya, melalui dibaca, dipelajari dan diamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya. "Semoga banyak yang ingin membaca dan mengamalkan," harap Gusti Joyo.
Proses pelaksanaan dan pembaharuan mushaf ini dilangsungkan bertahap. Naskah aslinya disebut nyaq berusia 212 tahun, ditulis tangan oleh abdi dalem keraton